Pemeriksaan Fisik Barang Impor

Pemeriksaan Fisik Barang Impor

Pemeriksaan fisik barang impor adalah kegiatan yang dilakukan oleh pejabat bea dan cukai pemeriksa barang untuk mengetahui jumlah dan jenis barang impor yang diperiksa guna keperluan pengklasifikasian dan penetapan nilai pabean. Pemeriksaan fisik barang impor dilakukan oleh pejabat pemeriksa fisik yang ditunjuk secara langsung melalui aplikasi pelayanan kepabeanan atau oleh pejabat bea dan cukai.

Tujuan pemeriksaan fisik barang impor dilakukan untuk memperoleh data barang secara lengkap agar dapat dipergunakan untuk :
a. menetapkan klasifikasi dan nilai pabean dengan benar
b. menemukan adanya barang yang tidak diberitahukan
c. menemukan adanya uraian barang yang tidak jelas / tidak benar
d. menemukan kesalahan pemberitahuan negara asal barang, dan/atau
e. kepentingan lain dalam rangka pemenuhan kewajiban pabean antara lain untuk keperluan perpajakan atau pemenuhan ketentuan larangan dan pembatasan

Tempat dilakukannya Pemeriksaan fisik , adalah :

  • di lapangan dan/atau gudang pemeriksaan di Tempat Penimbunan Sementera, Tempat Penimbunan Pabean, atau Tempat Penimbunan Berikat;
  • di gudang/lapangan importir dengan izin Kepala Kantor Pabean atau Pejabat yang ditunjuknya; atau
  • melalui hi-co scan X Ray container atas barang impor sejenis atau barang impor yang dikemas dalam kemasan berpendingin ( refrigerated container).

Tatacara Pemeriksaan Fisik Barang Impor :

Pemeriksanaan fisik dilakukan berdasarkan tingkat pemeriksaan fisik yaitu : 10%, 30% dan 100%
Tingkat pemeriksaan fisik ditentukan oleh:
a. Sistem Aplikasi Pelayanan Kepabeanan dalam hal Kantor Pabean telah menerapkan PDE kepabeanan, atau
b. Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai dalam hal Kantor Pabean belum menerapkan PDE kepabeanan.

Pelaksanaan pemeriksaan fisik dilakukan dengan mendasarkan pada packing list. Pelaksanaan pemeriksaan fisik ditentukan berdasarkan :
a. kemasan dalam petikemas , non petikemas atau bulk; dan
b. kemasan yang bernomor atau tidak bernomor;

Sistem aplikasi pelayanan menentukan nomor petikemas dimana kemasan harus dihitung dan dilakukan pemeriksaan fisik.
Pejabat pemeriksa dokumen atau Kepala Seksi kepabeanan dan cukai menentukan nomor kemasan yang harus diperiksa oleh pejabat pemeriksa barang dalam hal barang impor dikemas dalam kemasan yang bernomor.

Pemeriksaan fisik atas barang impor yang dikemas dalam kemasan petikemas dengan tingkat pemeriksaan fisik 10% atau 30% adalah :

  • dalam hal jumlah petikemas 5 (lima) atau kurang, pemeriksaan fisik sebesar 10% (sepuluh persen) atau 30% (tiga puluh persen) dari seluruh jumlah kemasan yang diberitahukan, dengan jumlah minimal 2 (dua) kemasan.
  • dalam hal jumlah petikemas lebih dari 5 (lima), pemeriksaan fisik dilakukan sebesar 10% (sepuluh persen) atau 30% (tiga puluh persen) dari seluruh jumlah petikemas yang diberitahukan, dengan jumlah minimal 1 (satu) petikemas.

Pemeriksaan fisik 10% (sepuluh persen) atau 30% (tiga puluh persen) ditingkatkan menjadi 100% (seratus persen) dalam hal:
a. Jumlah atau jenis barang di packing list tidak jelas;
b. Barang impor tidak dikemas dalam kemasan yang bernomor;
c. jumlah dan/atau nomor kemasan tidak sesuai dengan packing list;
d. jumlah dan/atau jenis barang yang diperiksa kedapatan tidak sesuai dengan packing list

Pemeriksaan fisik atas barang impor yang dikemas dalam kemasan bukan petikemas dengan tingkat pemeriksaan fisik 10% atau 30% adalah :

  • melakukan pemeriksaan sebesar 10% (sepuluh persen) atau 30% (tiga puluh persen) dari seluruh jumlah kemasan yang diberitahukan, dengan jumlah minimal 2 (dua) kemasan.

Pemeriksaan fisik atas barang impor dengan tingkat pemeriksaan fisik 100% adalah pemeriksaan fisik atas seluruh kemasan yang diberitahukan, dilakukan terhadap :

a. pemeriksaan fisik karena jabatan
b. terhadap barang impor tersebut terkena Nota Hasil Intelijen (NHI); dan/atau
c. barang impor dalam bentuk curah.

Dalam hal barang yang akan dilakukan pemeriksaan fisik dalam bentuk curah, maka Pejabat Pemeriksa Barang berdasarkan keahliannya (profesional jugdement) :

  • mencocokkan packing list dengan manifes, menghitung barang dari draft kapal dan/atau menghitung berdasarkan petunjuk ukuran lainnya untuk memastikan berat atau volume barang sesuai dengan yang diberitahukan; dan
  • mengambil contoh barang (sampling) secara acak atas barang impor jika diperintahkan dalam instruksi pemeriksaan;

Atas permintaan importir, pemeriksaan fisik terhadap barang impor yang dikemas dalam kemasan berpendingin (refrigerated container) dapat dilakukan :

  • di gudang importir khusus terhadap importir berisiko rendah (low risk importer), atau;
  • melalui hi-co scan x-ray container

Dalam rangka pelaksanaan pemeriksaan fisik, importir atau kuasanya berkewajiban untuk :

  • menyiapkan barang untuk dilakukan pemeriksaan fisik;
  • mengeluarkan kemasan (stripping) yang akan diperiksa di tempat pemeriksaan fisik barang dibawah pengawasan Pejabat Pemeriksa Barang;
  • membuka kemasan yang akan diperiksa;
  • menyaksikan pemeriksaan fisik; dan
  • menyerahkan contoh barang dan/atau foto barang dan/atau dokumen tentang spesifikasi produk yang diperiksa dalam hal diminta oleh Pejabat Pemeriksa Barang.

Pejabat Pemeriksa Barang :

  1. Membuat Berita Acara Pemeriksaan Fisik Barang Impor.
  2. Menuangkan hasil pemeriksaan fisik dalam Laporan Hasil Pemeriksaan Fisik (LHP).
  3. Bertanggung jawab terhadap jumlah dan jenis barang yang dilakukan pemeriksaan fisik dan tidak bertanggung jawab terhadap barang yang tidak dilakukan pemeriksaan fisik.
  4. Membubuhkan tanda berupa paraf di kemasan yang telah diperiksanya.

Importir/kuasanya :

  • Menandatangani Berita Acara Pemeriksaan Fisik Barang Impor.

Semoga bermanfaat.
BACA JUGA : Kawasan Daur Ulang Berikat


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *